Pulang
Dua bulan dua belas hari
Orang bilang itu waktu. Buat saya itu jalan.
Detik ini pun saya masih disana, ditengahnya
sekedar menepi, menulis ini.
Dua bulan dua belas hari
Ketika jauh di ujung sebelumnya
Saya berwarna, saya bernada
Penuh rasanya.
Ada yang merapatkan celah lima belas bulan itu
Bukan sekedar sumpal kapas atau kayu
Awalnya, harapnya.
Berwarna bukan berarti tak hitam
Tapi hanya dalam loncatan jam,
saya merah muda.
Hingga pada hulu dua bulan dua belas hari
diterpa kilat, disambar sekejap
Walau sudah bertemu pagi,
tak sadar ada yang sedang berkemas pergi.
Setiap hari sibuk kesana kemari
mengontak Ilahi
memastikan
bertanya
atau hanya sekedar meminta
Di dalam sini cukup hiruk pikuk
hanya saja bukan dalam satu ritme dunia nyata.
Dalam tumpukan hari
tepukan bahu sana sini
Kehilangan yang masih saya cari
Jati diri.
Dalam periode bisu
Tuhan bisa ukur buncahannya, lelahnya.
Bergejolak, lelah, lalu terlelap
Begitu saja siklusnya
Tak ada yang tahu.
Saya pernah begini
Persis di posisi ini
Hanya lupa absorbansinya
Dua bulan dua belas hari
Ditepi dan tengahnya
Ada bosan mengeluh, mengumpat
Ada letih menyerah, berharap
Bagaimana menilai tanpa melihat?
Hanya berjarak ratusan meter tiap malam
Saya tahu Anda di sana
Sekedar berbaring atau bermain FIFA
Tinggal menekan beberapa huruf, saya bisa dapat detilnya
Tapi terkadang, diam lebih mereduksi luka.
Tahukah Anda?
Sulitnya menemukan jalan pulang
Ketika sempat dijamu mewah istana
Dengan jalan yang tak tertangkap nalar manusia
Dan tiba-tiba harus kembali
Tanpa peta
Tanpa Anda
Hey yang disana,
yang memakai jingga kemerahan pada setiap pesta dan ritualnya
yang mengepalkan tangan kanannya bernada ‘satu dua tiga’ :
Jangan pernah paksa pemain bola mendaki Jaya Wijaya
Bukan malas, hanya sedang dicoba berbagai cara
hingga sampai pada apa yang Tuhan minta
Tidak perlu takut saya menangis
Toh, waktu pun sudah mengikis
Kamu dan saya manusia
Punya rasa, hanya berbeda lekuk ekspresinya
Hey Anda,
Sakit itu tak apa
Sakit itu dewasa
Ini hanya tahap naik kelas di mata-Nya
Transformasi manusia seutuhnya
Karena pada akhirnya
Saya hanya berbisik pada Tuhan
Semoga kita bahagia
Dalam ruang berbeda
Bahkan lebih sentosa
Dari dimensi dahulu kala
yang sementara,
yang sempat sangat berwarna.
Terima kasih ya.
Saya dalam perjalanan pulang
belajar menerima, belajar melepas,
dan mencinta.
untuk yang berwahana di ujung timur sana :
semoga berhasil ya, sampai jumpa di skenario Tuhan berikutnya
Dan jangan salah lagi ya :)



